Legasi di Tengah Riuh Digital
Harga Mahal Sebuah Legasi di Tengah Riuh Digital
Saat melangkah masuk ke dalam perpustakaan tua di kota Edinburgh, mata sering kali terbelalak melihat deretan buku karya ilmuwan-ilmuwan besar. Nama-nama yang dulu hanya kita dengar dalam pelajaran sejarah atau buku Michael Hart tentang "100 Tokoh Paling Berpengaruh", kini hadir dalam bentuk fisik karya-karya mereka. Lukisan dan patung mereka menghiasi kota, menandakan besarnya pengaruh yang mereka tancapkan bagi peradaban.
Namun, di balik kekaguman itu, muncul sebuah pertanyaan yang mengusik: Apa yang membuat mereka dikenang? Apa yang membedakan intelektual-intelektual besar itu dengan kita?
Jawabannya ternyata bukan sekadar kecerdasan, melainkan ketahanan dalam kesunyian.
Di Balik Panggung "Global Recognition"
Ketika kita melihat sebuah karya besar yang menjadi rujukan dunia, kita sering lupa melihat proses di belakangnya. Di balik pengakuan global (global recognition) itu, terdapat ribuan—bahkan puluhan ribu—malam yang dihabiskan di depan meja riset yang sunyi. Mereka bekerja keras tanpa ada tepuk tangan, tanpa jepretan kamera, dan tanpa validasi media sosial.
Bayangkan, para pemikir terdahulu bisa menghasilkan karya setebal 1.000 hingga 10.000 halaman tanpa bantuan komputer atau mesin tik modern. Itulah harga mahal yang mereka bayar untuk sebuah pencapaian agung (great achievement).
Semakin Berilmu, Semakin Merasa Kecil
Paradoks dari perjalanan intelektual adalah: semakin banyak kita belajar, semakin kita merasa tidak tahu apa-apa.
Ketika seseorang mendalami satu bidang, misalnya Ilmu Politik (Political Science), ia akan menemukan betapa luasnya samudera ilmu tersebut. Ada Hubungan Internasional, Perilaku Politik, hingga Kebijakan Publik yang bersinggungan dengan isu kesehatan dan lingkungan. Semakin digali, semakin terasa nihil pengetahuan kita di hadapan ilmu manusia, apalagi di hadapan ilmu Tuhan.
Namun, perasaan "kecil" ini tidak boleh mematikan semangat. Justru, kesadaran ini harus menjadi driving force (daya dorong) untuk terus bertumbuh (self-growth). Setiap menit dan detik menjadi berharga dan tidak boleh disia-siakan tanpa pembelajaran.
Bahaya Gratifikasi Instan di Era Digital
Tantangan terbesar bagi generasi pencari ilmu hari ini adalah mentalitas yang tergerus oleh media sosial.
Hari ini, kita didorong (distimulus) untuk selalu mendapatkan apresiasi instan. Sebuah usaha kecil yang kita posting bisa langsung mendapatkan likes, share, dan komentar pujian. Dopamin di otak kita melonjak, membuat kita merasa bahagia dengan pencapaian yang sebenarnya remeh.
Bahayanya, mentalitas ini membuat kita tidak tahan menjalani proses panjang. Kita kehilangan kemampuan untuk menunda kesenangan (delaying gratification).
Padahal, untuk mencapai level kepakaran yang diakui dunia atau menemukan sebuah kebaruan (novelty) dalam ilmu pengetahuan, dibutuhkan waktu riset bertahun-tahun. Dibutuhkan ketekunan membaca 5 hingga 10 jam sehari, bukan sekadar 20 menit lalu mengantuk.
Kesimpulan: Bekerja dalam Senyap
Jika kita terus menerus mengejar tepuk tangan instan, kita hanya akan melahirkan karya-karya kerdil. Attention span (rentang perhatian) kita akan semakin memendek, dan kita tidak akan sanggup membayar "harga" untuk sebuah legasi besar.
Maka, mulailah membangun mentalitas ketahanan (persistence). Bersedialah untuk bekerja dalam senyap. Biarkan orang lain kelak kagum dengan prestasi besar yang Anda bangun, sementara Anda sibuk membayar harganya di belakang layar: dalam ribuan malam yang sepi, tanpa sorak-sorai, namun penuh makna.

No comments:
Post a Comment